Kamis, 06 Nov 2008

Bisa Memarahi Presiden? Kereenn..

Jakarta (5/11)- Anak-anak usia tanggung itu berkeliling lorong-lorong gedung DPR dengan penuh semangat dan bergairah. Satu persatu ruang anggota dewan mereka masuki. Mereka tak sungkan bertanya dan bertegur sapa dengan para anggota dewan serta staffnya yang berada di ruang kerja. Setelah mereka puas berkeliling, mereka langsung menuju salah satu ruang rapat.

“Kenapa anggota DPR banyak yang sering jalan-jalan ke luar negeri?” celoteh seorang anak mengawali pertanyaannya di ruang rapat pleno fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), lantai 3 gedung Nusantara 1, komplek DPR/MPR. Pertanyaan kritis yang diajukan anak kelas enam Sekolah Dasar At Taqwa Rawamangun, Jakarta Timur ini, kontan saja membuat suasana menjadi hangat dan menyenangkan dalam acara kunjungan studi masalah kedewanan.

“Jangan ramai ya! Dan duduk yang manis!” ucap salah satu guru Sekolah Dasar tersebut sesaat sebelum kunjungan ke Fraksi PKS DPR RI. Adalah Rama Pratama, Anggota Komisi XI dan Andi Sholahudin, anggota Komisi V dari FPKS yang menerima kunjungan studi dari murid-murid SD At-Taqwa, Rawamangun ini pada Rabu (5/11) siang. Ditemani juga Staff Humas FPKS, Rama menjelaskan tugas, hak dan kewajibannya seorang anggota dewan sekaligus mengenalkan ruangannya.

“Kereee…nnn…!” kata seorang siswa yang langsung disambut tertawa spontan seluruh hadirin yang memenuhi ruangan tersebut. Ucapan itu keluar ketika Rama menjelaskan hak imunitas anggota dewan dalam forum rapat yang bisa ‘memarahi’ presiden jika ia salah. “Tapi, hak itu berlaku selama dalam ruang sidang. Bukan bicara nggak karuan di luar sidang,” jelas politisi muda PKS ini.

Tampak betul antusiasme anak-anak selama program kunjungan studi ini. “Program ini merupakan program tahunan untuk mengunjungi instansi pemerintahan. Waktu kelas 1 mereka ke RT, dan kelas enam ini kunjungan ke DPR,” ujar Silvianti, guru walikelas enam itu. Wina Nursofira Hidayati begitu senang dengan kunjungan kali ini. “Senang banget. Kita jadi tau kerja DPR dan bisa masuk ke ruangnya,” kata siswi kelas enam SD ini.

“Memang, pada masa orde baru dulu masyarakat dibuat apolitis, tidak suka pada politik. Karenanya kunjungan ke DPR ini merupakan hal yang positif buat pendidikan politik sejak usia dini. Siapa tahu diantara kalian punya cita-cita menjadi anggota DPR dan nanti ketika besar cita-cita kalian terwujud,” kata Rama dan diamini seluruh hadirin. (tfk/ded)

SMS Center

Arsip Kiprah